KONDISI PENGEMBANGAN UMKM DI SEKITAR DESTINASI WISATA EKOWISATA SUNGAI MUDAL


Pariwisata merupakan salah satu sektor yang memiliki kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah di area destinasi wisata Ekowisata Sungai Mudal. Kehadiran wisatawan tidak hanya memberikan dampak pada peningkatan pendapatan, tetapi juga membuka peluang besar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal untuk mengembangkan usaha mereka. Dalam konteks pembangunan ekonomi daerah, UMKM dipandang sebagai aktor penting karena memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan pasar serta peran strategis dalam menciptakan lapangan kerja baru. Oleh karena itu, sinergi antara sektor pariwisata dan UMKM perlu dikelola secara berkelanjutan agar dapat menghadirkan nilai tambah ekonomi sekaligus melestarikan kearifan lokal.

UMKM memiliki peranan vital dalam mendukung perekonomian daerah, terutama di destinasi wisata yang berbasis budaya dan alam. Produk-produk UMKM, baik berupa kuliner, kerajinan, maupun jasa, kerap menjadi bagian integral dari pengalaman wisatawan. Dan UMKM merupakan tulang punggung perekonomian yang mampu bertahan dalam kondisi krisis sekalipun, karena fleksibilitas dan kedekatannya dengan komunitas lokal. Dengan demikian, keberhasilan UMKM dalam memanfaatkan potensi pariwisata akan menentukan seberapa besar dampak positif yang dapat dirasakan masyarakat secara luas.

Namun demikian, UMKM lokal masih menghadapi berbagai tantangan dalam mengoptimalkan peluang dari sektor pariwisata. Keterbatasan akses permodalan, rendahnya literasi digital, serta keterampilan manajerial yang belum memadai sering kali menjadi kendala yang membatasi daya saing. Banyak UMKM di kawasan wisata belum mampu mengembangkan strategi pemasaran digital yang efektif, sehingga sulit menjangkau pasar wisatawan yang lebih luas. Oleh karena itu, diperlukan strategi khusus yang berfokus pada pemberdayaan, pendampingan, serta inovasi berbasis potensi lokal.

Selain tantangan internal, faktor eksternal juga turut memengaruhi kemampuan UMKM dalam  memanfaatkan  peluang  pariwisata.  Persaingan  dengan  produk  global,  perubahan  tren wisatawan, serta kebijakan pemerintah menjadi variabel penting yang harus dipertimbangkan. Strategi  bisnis  UMKM  harus  responsif  terhadap dinamika  lingkungan  eksternal  dengan  mengadopsi pendekatan inovatif dan kolaboratif.  Hal ini  menunjukkan    bahwa    pengembangan    strategi    UMKM    dalam    konteks    pariwisata memerlukan  sinergi antara kekuatan internal dan dukungan eksternal agar dapat menciptakan keberlanjutan usaha. Disisi  lain,  potensi  pariwisata  berbasis  kearifan  lokal  menjadi  peluang  unik  bagi UMKM  untuk  menciptakan  diferensiasi  produk.  Wisatawan  cenderung  mencari  pengalaman otentik yang berkaitan dengan budaya, kuliner tradisional, dan produk kerajinan khas daerah. Seperti kita ketahui bahwa produk UMKM yang berbasis budaya lokal memiliki  daya  tarik  kuat  bagi  wisatawan,  karena  tidak  hanya  menawarkan  barang  atau jasa, tetapi  juga  nilai-nilai  identitas  yang  melekat  pada  masyarakat setempat.  Dengan  demikian, strategi   pengelolaan   potensi   kearifan   lokal   harus   menjadi   bagian   integral   dari   upaya pengembangan UMKM.Kolaborasi antar pelaku menjadi kunci penting dalam mengembangkan strategi UMKM berbasis  pariwisata.  UMKM tidak dapat berjalan sendiri, melainkan membutuhkan dukungan dari   pemerintah,   komunitas,   maupun   pihak   swasta.   Program kemitraan  yang  melibatkan  UMKM,  pemerintah  daerah,  dan  asosiasi  pariwisata  mampu meningkatkan  kualitas  produk  sekaligus  memperluas  jaringan  distribusi.  Sinergi  ini  juga membantu   UMKM   dalam   mengakses   pelatihan,  teknologi,  dan  pasar  yang  lebih  luas, sehingga daya saing mereka semakin kuat.Peran  teknologi  digital  dalam  mendukung  strategi  UMKM  di  sektor  pariwisata  juga tidak dapat diabaikan. Transformasi digital membuka peluang bagi UMKM untuk melakukan promosi    secara   lebih   efektif,   menjangkau   pasar   global,   dan   meningkatkan   efisiensi operasional.  Program digitalisasi merupakan  salah  satu  faktor  penting  dalam  memperkuat  UMKM,  terutama  dalam  konteks pariwisata  yang  sangat  bergantung  pada  visibilitas  dan  reputasi.  Oleh  karena  itu,  literasi digital  menjadi  salah  satu  aspek  utama  yang  perlu  diperkuat  dalam  strategi  pengembangan UMKM lokal.Berdasarkan  latar  belakang  tersebut,  penelitian  ini  difokuskan  pada  eksplorasi  strategi UMKM  lokal  dalam  memanfaatkan  potensi  ekonomi  pariwisata.  Dengan  menggunakan pendekatan    kualitatif,   penelitian   ini   bertujuan   untuk   memahami   bagaimana   UMKM mengelola  potensi  lokal,  mengatasi  tantangan,  serta  membangun  kolaborasi  dengan  berbagai pihak. 


Dalam rangka pengembangan UMKM di area Ekowisata Sungai Mudal, pengelola berupaya ikut peduli dalam usaha pengembangan melalui pemasaran produk. Dalam tahap awal ESM melalui gagasan Sdr. Rudi Hastaryo  secara swadaya telah membangung bangunan sederhana yaitu Outlet Pruduk UMKM Masyarakat. Pemasaran produk melalui outlet UMKM telah dimulai sejak tahun 2019. Dari pemasaran produk lokal antara lain : aneka jenis keripik, gula semut aneka rasa/ rasa rempah, kopi menoreh produk lokal dan selain itu outlet UMKM juga menjual aneka minuman yang sering dibutuhkan pengunjung.


Seiring berjalannya waktu outlet UMKM di rest area ESM pada hari Minggu, 12 April 2026 telah dilaksanakan terbatas yang dihadiri oleh perwakilan pelaku UMKM, Pelaksana kegiatan outlet UMKM untuk tahun 2026  (2 orang), Ketua I/ II, Koordinator Pengawas, Sekretaris, Bendahara, dan lainya (secara daring & luring). Dalam rapat telah dilaksanakan evaluasi kegiatan yang menyimpulkan beberapa permasalahan tentang produk UMKM lokal antara lain :

  1. Keawetan pruduk UMKM sangat terbatas terpepengaruh beberapa faktor antara lain: penggunaan minyak goreng yang berulang menyebabkan produk cepat beraroma tidak sedap (tengik);
  2. Produk UMKM terutama gula semut keawetan juga kurang karena terpengaruh kemasan produk yang tidak kedap udara, yang sementara ini pengemasan dilaksanakan oleh pengelola outlet UMKM.
  3. Pembuat produk juga tidak rutin karena terpengaruh ketersediaan bahan dan musim, misal: kopi, keripik, dll.
  4. Pengambilan produk juga tidak rutin, sehingga pelaku UMKM memilih diam, yang sebenarnya ada sedikit permasalahan tentang pengemasan produk kurang kedap udara sehingga produk UMKM tidak bertahan lama.
  5. Pengelola tidak pernah melaporkan permasalahan operasional outlet UMKM kepada Ketua, sehingga belum pernah dilaksanakan evaluasi.
  6. Tempat pemasaran produk / outlet UMKM volume kurang luas, sehingga diperlukan pengembangan area.
Dari beberapa permasalahan seperti tersebut di atas maka, peserta musyawarah telah mengambil beberapa kesepakatan antara pengelola outlet UMKM dan perwakilan Pelaku UMKM adalah sebagai berikut:

  1. Ketua menunjuk personil yang bertugas dan bertanggung jawab terhadap operasional outlet UMKM yaitu : Koordinator, Pelaksana (1) Parjo; (2) Desi Ratnasari, dan Pelaku UMKM: (1)  Sumarlan; (2) Suryadi; (3) Pelaku UMKM lainnya, yang kemungkinan bertambah;
  2. Kemasan produk UMKM karena sebagai sample produk harus dikemas secara profesional yang akan menjamin nilai jual dan kelayakan produk;
  3. Pengemasan produk akan dikoordinir oleh Sdr. Sumarlan.
  4. Kemasan produk mencantumkan nama produk, nama produsen, dituliskan : Mitra Ekowisata Sungai Mudal, dan ditulis nomor IRT, halal dan masa beredar;
  5. Dalam waktu dekat akan dilaksanakan rapat terbatas dengan peserta pemilik warung makan/ warung jajanan, dan Pelaku UMKM mitra ESM yang akan membahas peran warung untuk tempat menitipkan produk UMKM.
  6. Kedepan outlet UMKM akan berkembang menjadi warung oleh-oleh khas ESM yang ditempakan diluar Rest Area ESM.
  7. Pada waktu-waktu tertentu ESM akan melaksanakan ESM terkait dengan branding UMKM/ ESM yaitu program Welcome-Drink dan Welcoming-Snack dengan kemasan saset/mini;
  8. Di outlet UMKM ESM pada waktu-waktu tertentu akan disiapkan minuman untuk tester bagi wisatawan dengan tujuan agar tertarik pada produk UMKM lokal.
  9. Setiap permasalahan terjadi pada operasional Outlet UMKM pelaksana diwajibkan melapor kepada koordinator dan untuk selanjutnya semua permasalahan akan dilaporkan kepada Ketua sebagai dasar melaksanakan evaluasi kegiatan.

Semoga dengan hasil evaluasi operasional Outlet UMKM ini dapat menambah semangat bagi pelaku UMKM di area destinasi wisata Ekowisata Sungai Mudal, sehingga dapat berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat yang terlibat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BANTUAN BIBIT TANAMAN PANGAN SECARA SPONTANITAS KEPADA MASYARAKAT DI LINGKUNGAN ESM

MATA AIR MUDAL

SUASANA SABTU PAGI 21 MEI 2022 DI EKOWISATA SUNGAI MUDAL